Selasa, 19 Maret 2013

Penelitian Kuantitatif

Ciri-ciri Utama Penelitian Kuantitatif

Oleh : Prasetya Irawan

Beberapa ciri penelitian kuantitatif berikut ini mudah-mudahan memperjelas pemahaman kita tentang penelitian kuantitatif. Ciri-­ciri tersebut adalah:
1. Permasalahan penelitian terbatas dan sempit
2. Mengikuti pola berpikir deduktif
3. Mempercayai angka (statistika atau matematika) sebagai
instrumen untuk menjelaskan kebenaran.
4. Membangun validitas internal dan validitas eksternal sebaik
mungkin.

1. Permasalahan Penelitian Terbatas dan Sempit
Sejak awal peneliti kuantitatif telah berusaha membatasi lingkup penelitiannya, dengan mengidentifikasikan satu atau beberapa variabel saja. Peneliti berusaha keras untuk memilih variabel yang menurutnya paling penting untuk diteliti. Obsesinya adalah menemukan sesedikit mungkin variabel, tetapi yang mungkin menjelaskan realitas kebenaran sebanyak mungkin.
Di kalangan ilmuwan eksakta, dipercayai bahwa alam semesta ini diatur oleh hukum-hukum yang sederhana. Jika mereka menemukan suatu penjelasan yang melibatkan banyak variabel, mereka menjadi gelisah, dan merasa ada yang salah. Misalnya, mereka percaya ada satu hukum "sederhana" yang menyatukan empat kekuatan besar di alam semesta (interaksi lemah, elektromagnetik, gravitasi, dan interaksi kuat) dalam satu hukum (mereka menyebutnya "The Grand Unified Theory").
Jika menggunakan rumus regresi, dikenal satu pemeo "less is more". Maksudnya, semakin sedikit prediktor (variabel X) semakin baik dan semakin besar kekuatan memprediksi variabel Y. Pendeknya, menemukan gambaran luas dan umum tentang sesuatu bukanlah cita-cita peneliti kuantitatif. Tetapi ia memilih satu aspek realitas yang sangat spesifik dan "kecil" untuk diteliti.




2. Mengikuti Pola Berpikir Deduktif
Secara umum, pola berpikir deduktif berjalan seperti ini:

Pengamatan            Hipotesis              Pengumpuian Data    
Pengujian Hipotesis           Kesimpulan

Albert Einstein percaya betul pada superioritas metode deduktif ini dan mengatakan (dalam Suriasumantri, 1981)

Tak ada metode induktif yang mampu menuju pada konsep fundamental dari ilmu alam. Kegagalan dalam menyadari hal ini merupakan kesalahan dasar filosofis dari banyak sekali peneliti dalam abad 19. Sekarang kita sadari dengan sepenuhnya betapa salahnya para ahli teori yang berpendapat bahwa teori datang secara induktif dari pengalaman.

Sekedar untuk diingat, jumlah bab di dalam skripsi/tesis/disertasi pada umumnya adalah lima. Jumlah bab ini bukan sekedar urusan administrasi, tetapi merupakan cerminan struktur logis pengembangan sains.

3. Mempercayai Statistika atau Matematika Sebagai Instrumen Untuk
     Menjelaskan Kebenaran

Ketika suatu saat seseorang mengomentari Albert Einstein tentang teorinya yang rumit (dalam bentuk hitungan-hitungan matematika) bahwa "itu hanya teori, tidak ada gunanya bila tidak cocok dengan realitas di lapangan". Einstein menjawab "Anda benar, hanya observasi yang mampu membimbing kita menuju ke kebenaran. Saya tidak percaya pada matematika".
Tentu saja kita tak pernah tahu apakah dialog ini benar-benar terjadi. Tapi tak bisa dipungkiri bahwa semua peneliti kuantitatif (termasuk Einstein) selalu menggunakan bahasa angka untuk mengungkapkan pikiran-pikiran mereka. David Hume pernah mengatakan, pemikiran abstrak tanpa kuantitas dan angka adalah khayalan dan debat kusir belaka (dalam Lawrence, 1989).
Karena tradisi kuantitatif yang sangat kuat inilah, maka peneliti ilmu sosial pun merasa "kurang ilmiah" jika tidak menjelaskan penemuan-penemuannya dalam bentuk angka.
Tetapi kadang-kadang hal ini terjadi secara berlebihan. Banyak peneliti ilmu sosial, misalnya, memaksakan diri menggunakan rumus regresi (y = a+bx) pada hal data yang dia miliki hanya berskala or­dinal atau bahkan nominal. Angka yang dihitung pasti muncul. Tetapi angka-angka dalam rumus itu sebenarnya "statistically non­sense".

4. Membangun Validitas Internal dan Validitas Eksternal Sebaik Mungkin
Menghitung korelasi antara dua variabel adalah mudah. Tetapi meyakinkan bahwa satu variabel benar-benar membuat variabel yang lain berubah-ubah, ini yang sangat sulit. Validitas internal tercapai jika peneliti berhasil meyakinkan bahwa variabel Y benar­benar dipengaruhi oleh variabel X (bukan oleh variabel W,K, atau Q).
Selanjutnya, peneliti berpikir, Apakah temuan saya ini juga berlaku di konteks lain (selain penelitian yang saya lakukan?) Bila ternyata ya, berlaku, maka peneliti telah mencapai validitas eksternal. Dalam hal ini, peneliti yang teliti tidak hanya senang karena dia telah mencapai validitas eksternal dalam penelitiannya. Tetapi dia juga khawatir terhadap kasus-kasus yang bisa mendiskonfirmasi temuannya. Maka, sebelum orang lain yang mendiskonfirmasi temuannya, peneliti itu sendiri mencari kasus-­kasus yang berpotensi mendiskonfirmasi temuannya itu.
Dalam hal ini ada beberapa variabel penting yang berpotensi merusak validitas internal. Variabel-variabel ini (disebut Extraneous Varable) seperti misalnya History, Maturation, Regression Effect, dan lain-lain) harus dikontrol dengan sebaik-baiknya oleh peneliti.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Manusia Biasa....!!

Bergerak dan Lawan...!!!

Tanpa bergerak kita tak akan mungkin maju !!! Jangan katakan TIDAK sebelum kita lakukan !!! Lawanlah Kekurangan yang dimiliki oleh diri kita untuk menjadi sebuah kelebihan... Berani itu Hebat !!!
TATTYSEKARKIDDUL